Nyadran merupakan salah satu warisan budaya yang masih lestari di tengah masyarakat, terutama di Jawa. Tradisi ini bukan sekadar ziarah dan membersihkan makam leluhur, tetapi juga memiliki nilai sosial dan spiritual. Di era modern, Nyadran menghadapi tantangan dari perubahan gaya hidup dan arus globalisasi. Namun, dengan kesadaran kolektif dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, tradisi ini tetap bisa dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Melalui Nyadran, nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan tetap terjaga, menjadikannya sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Di Kalurahan Giripeni sendiri, Nyadran masih aktif dilaksanakan di 8 Padukuhan menjelang bulan Ramadan. Biasanya, kegiatan ini dilakukan dengan membersihkan makam, berdoa bersama, dan menggelar kenduri atau selamatan. Tidak lupa membawa tumpeng dan ubo rampe yang menjadi simbol rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.